IMG_20141227_132700
Wisatawan Berpose di depan Pura Tirta Empul, Gianyar. (foto: Dok. Pribadi)

Puluhan orang dengan logat khas Madura tiba-tiba gaduh di ruangan Rapat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Sabtu, awal bulan April  di Denpasar. Mereka nampak serius. Beberapa pertanyaan mereka lempar kepada salah guru besar  di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Ada apa ?

Pertanyaan, terdengar singkat. Sang profesor dengan pun  gesit menjawab. “Bagaimana cara agar   tradisi dan budaya yang lokal bisa menjadi universal dan bisa dinikminati  oleh wisatawan asing?”

Pertanyaan tersebut muncul dari salah seorang pria yang ikut dalam rombongan Dinas Kebudayaan,  Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur serangkaian Bimbingan Teknis Seni Pertunjukan di Provinsi Bali.

“Perlu kerja keras untuk menggalinya. Termasuk simbol dan kesenian ditampilkan, setidaknya gerakannya  mudah dipahami ,”demikian jawaban Prof. Wayan Dibia,  akademisi yang juga seniman tari dari Kabupaten Seni, Gianyar itu memberikan jawaban secara singkat dan padat.

Selain pertanyaan itu, ada beragam variasi pertanyaan lain yang ditujukan kepada pria yang pernah mengajar seni di Amerika Serikat ini.  Tak lain untuk  menggali tips dan strategi pemerintah Bali dalam mengkeplorasi seni dan budaya. Termasuk integrasi dengan pariwista dan manajemennya.

Rombogan terdiri dari PNS  juga mengikutsertakan  setidaknya 20 seniman. Mereka, melakukan studi budaya di Bali selama 4 hari. Beberapa  daerah seni, wisata dan hiburan tak lupa mereka kunjungi dan nikmati.

Seperti  Batu Bulan untuk melihat  pertunjukan Barong, di Bangli menikmati kemegahan Gunung Batur dan kembali pada suasana lampau Bali  ala Pedesaan Panglipuran. Selebihnya  ikut melebur di kehipuan modernitas Pulau Dewata di pusat  keramaian  seperti Pantai Sanur, Kuta dan pusat perbelanjaan Oleh-Oleh Bali.

“Kami lihat Bali begitu  luar biasa. Hanya bermodal seni dan budaya, bisa menjadi sorotan dunia,”puji diantaranya rombongan sembari menyisipkan pertanyaan rahasia dibalik  kesuksesan Bali dalam menghidangkan budaya sehingga  turis begitu tergila-gila.

Dibia pun kembali melahap pertanyaan tersebut. Maklum saja, jiwa seni ditambah konsep matang berkesenian sudah di luar kepala baginya.  Sehingga ia memahami betul keinginan  beberapa daerah di Indoneisa yang ingin mengembangkan potensi budaya.

”Tunjukkan yang khas dan karaker kuat. Jangan tampil sama.  Untuk itu, perlu dibangun roh dari budaya. Totalitas dan profesional harga mati yang tak bisa di tawar,”katanya menegaskan.

Apa yang dilakukan Kabupaten Sumenep ke Bali, memang bukan daerah   pertama di Indonesia  yang menggali ilmu bagaimana Bali memuliakan seni dan budayanya. Saat ini, pariwisata mengusung konsep budaya lokal sudah jor-joran atau latah  dilakukan oleh sebagian besar pemerintah daerah.

Tak hanya mengandalkan antraksi bersifat moderen, tapi lokalitas budaya yang khas turut di daur ulang. Sumenep memang  tak mau kalah dengan  Kabupaten Banyuwangi  yang begitu  “gila” menggelar even budaya dengan cost yang tidak sedikit.

Potensi Sumenep di Bidang Pariwisata,  dari Sumber Wikipedia  yang dibanggakan diantaranya wisata sejarah, budaya dan arisetektur. Museum Keraton Sumenep bisa dibilang menjadi obyek andalan daerah setempat.

Termasuk obyek wisata kesehatan di Pulau Giliyang yang terletak di  Kecamatan Dungkek. Obyek ini mengandalkan kandungan udara yang begitu besar yakni 22 persen. Konon di pulau ini, warga  setempat bisa bertahan hidup hingga diatas umur seratus tahun. Jadi, tak mengherankan pulau ini menjadi wisata minat khusus oleh pelancong khususnya dari Tiongkok (China).

“Yang jelas kami ingin seperti Bali,  mengembangkan budaya,  kami juga terlibat dalam kegiatan Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun lalu,”kata Sukaryo, yang tak lain Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Sumenep.

Demikianlah Bali.  Tak hanya ramai dikunjungi oleh wisatawan tapi juga kepala daerah atau instansi terkait dengan tujuan untuk belajar bagaimana cara  mengembangkan pariwisata berbasis budaya. Apalah arti  pariwisata   tanpa suguhan budaya. Tentu akan kering.

Namun, motivasi pelestarian dan agenda revitalisasi  budaya tentu tak etis jika   sekadar untuk menunjang pariwisata semata.  Apalagi pragmatis untuk memperoleh  kesejahteraan dengan mengekploitasinya. Ia butuh pemuliaan. Tak sekadar jargon!

Share Your Thought