???????????????????????????????
Salah satu testimoni sulinggih pada koran harian di Bali.

Untuk memikat dan diterima pasar,  produk atau jasa harus sekreatif  dan sesering mungkin berpromosi.

Lantas, bagaimana jika sebuah produk memanfaatkan seorang sulinggih sebagai subjek (pelaku) iklan layaknya brand ambassador. Wajarkah ? Ini yang  terjadi belakangan di Bali. Sebuah produk tak lagi menampilkan figur anak muda, sosok yang berpretasi dan suasana hangat  keluarga dalam tayangan sebuah iklan. Melainkan, seorang pendeta Hindu.

Disebuah koran harian lokal sosok  tersebut di muat dalam waktu  dan jenis produk yang berbeda.  Yang satunya, seorang sulinggih memberikan testimoni kasiat air mineral beroksigen yang baik untuk kesehatan. Sementara sulinggih satunya lagi, memberikan testimoni humanis terkait produk  eletronik ternama. Ini terdapat dalan dua koran lokal yang berbeda. Dengan tujuan sama. Memancing pembaca untuk ikut menggunakannya!

Apa saja yang diungkap para sulinggih tersebut ?  Berikut  ulasannya. Dalam produk air minum  bermerek lokal  tersebut tertuang keterangan air yang tak biasa. Yakni  beroksigen. Dalam testimoni yang diterbitkan pada halaman utama koran lokal tersebut,  sulinggih  mengakui manfaat yang dirasakan ketika rutin  mengkonsumsi air besutan dari Kabupaten Buleleng tersebut. Ia menuturkan, sebelum mengkonsumsi air tersebut ia kerapkali mengidap sakit-sakitan. Terutama  penyakit “elit”. Seperti diabetes hingga jantung.

Namun, setelah mengkonsumsi air beroksigen tersebut, penyakit yang diderita berangasur-angsur membaik dan ia pun bisa melakukan aktivitas dengan baik. “Jadi saya akui ada banyak kemajuan dalam kesehatan saya semenjank rutin mengkonsumsi air …,”ucapnya meyakinkan. Ia pun menghimbau, kepada masyarakat luas agar mengikuti jejaknya dengan mengkonsusmsi air yang di maksud sehingga terhindar dari penyakit.

Sementara sulinggih yang satunya   dalam koran lokal lainnya, juga tak jauh berbeda. Ia memberikan testimoni terhadap barang elektornik jenis televisi. Dalam ulasan tersebut, ia berpose di depan TV LED. Entah sengaja atau tidak, dalam siaran televisi terlihat tayangan bernuansa agamais. Yakni upacara keagamaan dimana para  ibu-ibu membawa gebongan.

Dalam testimoni yang  dikemas layaknya konten berita tersebut, diulas kiprah sang pendeta. Mulai dari aktivitas hingga pelayanan umat yang dilakukan sehari-hari. Tak luput pula, sang pendeta memanfaatkan tekologi dalam hal ini barang-barang elektronik (baca : tevelisi) untuk mengupdate infomesi keumatan. Dan diujung testimoninya, sang sulinggih memberikan manfaat terhadap produk yang digunakan sangat membatu. Tak hanya harga  yang terjangkau tapi juga kualitas hingga service center  yang mudah dihubungi.

Apa yang bisa dipetik dari testimoni yang diberikan oleh pendeta Hindu tersebut ? Pertama, siapapun yang membaca ulsan testimoni  apalagi dimediakan. Otomatis  ada ketertarikan publik  dan berencana ingin mencoba produk-produk tersebut. Apalagi, sudah diyakinkan oleh seorang pendeta, seorang sulinggih yang dikenal luas mengayomi umat, taat dengan ajaran agama .

Tentu penilaian masyarakat, khususnya dalam hal ini umat Hindu, sang sulinggih tidak mungkin “berbohong” dalam testimoninya. Otoritas kebenaran masih dipercayai oleh masyarakat dari sosok orang-orang suci tersebut.

Kedua, produsen produk diuntungkan dari iklan yang disampikan dalam media. Hal ini mempengaruhi nilai jual produk mereka dipasaran. Yang pada akhirnya bermuara pada profit oriented.  Hal itu terjadi karena  keunggulan-keunggualan yang dinilai berada dalam produk sudah di sampaikan melalui “kebenaran” orang suci dalam hal ini para pendeta.

Jadi Bumerang

Selama ini daya tarik iklan sangat besar berpengaruh pada sebuah produk atau jasa. Dengan medium yang digunakan, entah cetak maupun elektronik. Secara tidak langsung tersimpan dalam memori . Namun, pada kenyataanya tak sedikit keunggulan produk yang disisipkan dalam sebuah iklan tak selama jujur dan apa adanya. Ia  juga terkadang  membohongi publik yang berpendidikan.

Jika dipahami, iklan tak sekadar menjual barang. Ia juga menginformasikan, membujuk, menawarkan status, membangun citra, dan bahkan menjual mimpi. Yang semuanya itu ditujukan kepada Anda, sebagai calon pembeli/penggunanya.

Konsumen (baca: umat Hindu)  tak serta merta  sehat ketika mengkonsumsi air mineral yang direkomendasikan. Begitupun, tak puas dengan harga dan pelayanan  service senter sebuah merek barang eletronik ketika diangung-angungkan memuaskan. Disinilah, harga diri seorang pendeta dipertaruhkan. Karena, konsumen sudah menjadi korban iklan (testimoni).

Ketika, sebuah produk atau jasa tak seperti yang diiklankan. Disinilah publik atau konsumen merasa tertipu. Apalagi, testimoni yang coba diyakinlah oleh tokoh agama seperti pendeta. Dikemudian hari, ini akan menjadi bumerang. Wibawa yang selama ini melekat kepada sulinggih yang nilai jujur, bisa memberikan contoh dan taat kepada agama bakal luntur seketika. Karena sudah dicap “pembohong”.

Bencana Moral-Spiritual

Berbagi cara yang ditempuh  penyedia jasa maupun sponsor produk untuk mengenjot penjualan barang /jasa. Iklan diolah sekreatif mungkin untuk menggugah emosional konsumen. Hal tersebut tidak terlepas  dari unsur segmentasi pasar yang disasar. Mulai dari letak geografis, profesi, usia, jenis kelamin bahkan  agama.

Bali, sebagai kawasan pariwisata memang tidak bisa dilepaskan dari unsur budaya dan agama. Kedua unsur tersebut merupakan kekuatan  masyarakat lokal yang tak bisa ditawar. Melihat fenomena itu, penyedia iklan tentu  kreatif melihatnya. Sehingga tak mengherankan unsur pengenalan produk maupun jasa di Bali marak menggunakan sentuhan budaya dan agama. Mulai dari simbol-simbol hingga  tokoh masyarakat yang populis.

Untuk menyasar segmentasi  pasar di Bali, sebuah produk/jasa  sudah merambah  pemimpin upacara sebagai “brand  ambassador” atau pentestimoninya. Karena mereka menilai, masyarat (umat Hindu) dekat dengan sang tokoh agama dan memiliki citra positif. Sehingga diharapkan mengikuti jejak sang sulinggih untuk menggunakan produk/jasa  bersangkutan.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi, tapi mengingatkan sulinggih yang begitu dihormati kedudukannya. Seharusnya para sulinggih berhati-hati untuk menerima tawaran sebagai pemberi testimoni apalagibrand ambassador . Karena hal ini akan menjadi bencana moral-spiritual di kemudian hari.

4 thoughts on “Ketika Sulinggih Jadi “Brand Ambassador”

  1. made argawa

    Cerdas,,,

    1. komentarnya bisakah diperpanjang lagi ? #biarramai :)

      1. Biar panjang itu gimna gus,,,??? Perlu ke Mak Erot dong,,,hehee

  2. hahaha.. beliau sudah tiada. mau jadi penerusnya kah ?

Share Your Thought