Bali-Les-Enchaines-2
sumber foto: www.suryani-institute.com

Masihkah Bali pantas di sanjung sebagai Pulau Surga. Pulau yang memberikan kesejukan dan ketenangan warganya ?

Dikediamannya di Jalan Gandapura no 30, Denpasar  Luh Ketut Suryani menghabiskan waktunya yang kian senja. Bukan menggendong cucu sebagaimana mestinya para nenek-nenek lainnya di Bali. Bukan pula mempersiapkan rangkaian janur untuk persembahan upacara keagamaan.

Sehari-hari ia melayani tamu dari berbagai usia bahkan lintas warga kenegaraan. Ia mendengar curahan hati  keluarga maupun korban  yang mengalami depresi berat, gila puluhan tahun, di pasung dalam kandang ternak, pemarah hingga yang tersadis,  percobaan mengakhiri hidup dengan sia-sia: bunuh diri!

“Itulah kondisi masyarakat Bali saat ini,”kata Psikiater ini.  Ia  merasa lebih  pilu ketika media massa sehari-hari menyajikan pemberitaan  orang yang meninggal  lengkap dengan cara dan sarana yang dipergunakan. Begitu detail. Sehingga tak berlebihan juga ia menilai  dari media pula masyarakat memperoleh “refrensi” informasi   bunuh diri itu.

Bali-Les-Enchaines-1
sumber foto: www.suryani-institute.com

Maraknya orang bunuh diri selama ini di Bali dinilai semata karena faktor ekonomi. Dari penelitian yang dilakukan oleh Suryani Institute for Mental Health (SIMPH) yang didirikan oleh Suryani, bunjur diri bukanlah yang utama.  Dominan faktor bunuh diri terjadi didominasi gangguan jiwa (32,3 %) menyusul gangguan fisik ( 25,3 %) dan terakhir masalah ekonomi keluarga (15,2 %).

Orang gangguan jiwa (gila) seringkali  dinilai sulit untuk disembuhkan. Melalui, berbagai penuturan pihak keluarga hingga  penelitian yang dilakukan dilapangan. Suryani, menemukan gejala bahwa pihak keluarga sudah pasrah atas anggota keluarganya tersebut.

Berbagai jalan sudah di tempuh. Baik dari pengobatan medis hingga non medis. Tapi, hasilnya, nihil. Harta dan lahan sudah habis dijual untuk pengobatan. Akhirnya keluarga pun pasrah, dan  membiarkan mereka tetap  gila. Jika membrontak, pemasungan menjadi  alternatif kebanyakan.

Chained-3
sumber foto: www.suryani-institute.com

Dalam katalog yang diterbitkan  SIMPH  Agustus 2014 lalu serangkaian Pamaren Foto Internasional yang mengususng tema Terpasung di Pulau Surga yang digelar di  Bentara Budaya Bali  (BBB), Gianyar.  Suryani memberikan kata pengantar. Ia memaparkan 3 wilayah di Bali yang darurat orang gila dengan merilis data tahun 2008.

Masing-masing tersebar di  Karangasem, Bueleleng dan Denpasar Timur yang mengoleksi total 7000 orang  gangguan jiwa. Sebanyak 300 orang dipasung. Memasuki tahun 2010, meningkat lagi dengan jumlah 9000 orang. Dengan jumlah pemasungan 350 orang.

sumber foto: www.suryani-institute.com

Sebagian besar keluarga penderita beranggapan bahwa gangguan jiwa berarti tidak bisa diobati.  Dicap sebagai karma pala,  kutukan leluhur atau  Tuhan.  Titik!  Sehingga pihak keluarga hanya bisa percaya dengan mukjizat, kalau gangguan jiwa berat bisa disembuhkan. Lantas, apakah benar  orang gangguan jiwa berat tidak bisa disembuhkan ?

Menut perempuan yang memperoleh penghargaan  Ibu Berpanguh di Tahun 2007 tersebut penanganan gangguan jiwa berat tidak sekali terapi langsung sembuh, dan setelah itu masalahnya selesai. Penanganan harus berlanjut. Penanganan mulai dari tingkatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Ini yang tidak ada di Bali maupun di Indonesia.

Gangguan jiwa sama dengan gangguan fisik, tapi  masyarakat hanya  bisa menerima kalau penyakit fisik saja yang bisa disembuhkan. Sedangkan jika gangguan jiwa kambuh, dianggap mustahil.

Penyembuhan dengan nama biopsikospirit –sosiobudaya pun diperkenalkan oleh penulis buku The Balines People itu. Penyembuhan ini lebih mendekatkan pada sistem kombinasi antara pengobotan medis dan non medis. Dalam hal ini ada sentuhan  meditasi dan upacara (penglukatan) dilakukan oleh keluarga, saat pasien sembuh.

sumber foto: www.suryani-institute.com
sumber foto: www.suryani-institute.com

Di luar konsep yang ditawarkan, Suryani  ingin mengajak semua pihak khususnya masyarakat Bali melihat kondisi orang gangguan jiwa yang selama ini diberlakukan tak lebih seperti “binatang”. Disekap oleh keluarga sendiri. Mereka dipasung di dalam rumah, kandang hingga tempat yang kurang steril.

Itu semua ada solusi jika pihak keluarga mau “belajar” menghadapi anggota keluarganya.  Tak mesti harus mengeluarkan bianya banyak. Dengan menggandeng para fotografer profesional, ia ingin menghadikan visualisasi sesungguhnya para penghuni surga yang sakit dan “disiksa”.

Semoga Anda tersentuh!

 

Share Your Thought