marketing_plan
sumber: ramadhaniamel.blogspot.com

Entah apa yang menyebabkan saya jatuh cinta dengan ilmu marketing akhir-akhir ini. 

Belakangan ini saya terbilang rajin membaca buku, majalah dan portal online yang berkaitan dengan marketingBahkan hampir setiap hari saya lakukan. Meskipum harus mencuri waktu disela kesibukan. 

Kini saya pun  mulai akrab dengan istilah-istilah segmentasi, targeting, positioning, diferensiasi, marketing mix, selling, brand, servis dan proses. Istilah ini saya temukan dari  pemkiran dan Guru Marketing Indonesia, yakni Hermawan Kertajaya dalam seri 9 marketing yang dimuat dalam bukunya. Seri tersebut  dikupas sederhana dan menarik dengan mengabil contoh perusahaan raksasa dunia.

Dalam bukunya, Hermawan yang juga  Presiden Markplus & Co tersebut mengungkapkan 9 elemen marketing  tersebut merupakan kunci suksesnya pemasaran bisnis di bidang apapun.

Masih menurut Hermawan, untuk membangun strategi yang kokoh pada usaha yang harus dilihat secara mendasar yakni peluang pasar  secara kreatif dan membagi pasar tersebut pada segmen-segmen berdasarkan kondisi psikografis-behaviour tertentu.

Dari sina kemudian dilanjutkan dengan memilih salah satu atau beberapa segmen sebagai target pasar. Sehingga dapat memposisikan produk, merek, dan perusahaan di dalam target pasar.

Tentunya “teori” tersebut bukan sekadar teori yang ada dalam buku mata pelajaran ataupun mata kuliahan para mahasiswa ekonomi. Namun  betul-betul diterapkan oleh para perusahan dan personal yang membawa karirnya melesat ke  posisi puncaknya saat ini.

Resep itu pun yang ternyata membuat  perusahaan sekelas penerbangan Garuda mengepakkan sanyapnya di langit global, Taxi Blue Bird terus berinovasi ditengah menjamurnya taxi-taxi lainnya, track record  rokok yang tak lain sebagai “sumber penyakit” namun tetap digandrungi rakyat Indonesia hingga jatuh bangun para pelaku usaha fashion dan kuliner karena mampu melewati masa-masa elemen marketing tersebut

Tak jauh berbeda saya temukan ulasan serupa di majalah  marketing. Rubrik yang seringkali membuat saya terglitik, bangkit dan panas dingin adalah  sosok atau pribadi yang sukses di bidangnya.

Di sana banyak hal yang bisa saya pelajari.  Meskipun demikian, sebagai pelakon di bidang jurnalis, saya mengetahui betul. Ulasan dalam setiap tulisan di media, apalagi human interest yang di setting sedemikian rupa hanya fokus  satu angle yang pada klimaksnya   bermuara pada kesuksesan. Sehingga membuat decak kagum para pembaca atas kesuksesan sebuah perusahaan maupun pribadi dibalik usahanya.

Namun di belakang layar kesuksesan yang dibubuhkan di media, perjuangan sang empunya usaha juga berdarah-darah. Sangat dramatis. Tentu kunci kesuksesanya ada pada bekal marketing yang dimiliki. Entah marketing  modern maupun tradisonal yang diterapkan.

Bagi awam kebanyakan, seperti saya Ilmu marketing memang hanya pantas dikonsumsi mereka yang bergelut dibidangnya termasuk seseorang yang menjabat di korporasi besar. Namun hal itu tentu salah besar. Dimana saya dan Anda bekerja, terapan ilmu marketing menjadi ujung tombak agat jasa maupun produk kita memiliki nilai dan porsi tawar yang membanggakan.

Jika bekal marketing kita miliki dengan baik, posisi strategis dan tawaran menarik pasti datang  seperti gula direbut para semut. Termasuk untuk  berwirausaha. Jadi jatuh cinta dengan ilmu marketing, kenapa tidak ?

 

Share Your Thought