hand-drawn
sumber: www.the-marketeers.com

Semenjak kehadiran mahluk yang bernama media sosial (medsos). Perilaku sebagain besar masyarakat  saat ini berubah drastis. Kultur oral perlahan bergeser menjadi tulis-menulis.

Mulai dari bangun tidur, sarapan hingga memulai aktivitas bahkan sebelum tidur di malam hari  disibukkan dengan   menyusun kata-kata satu persatu melalui keyborad gadget maupun komputer. Setelah itu di publis melalui akun medsos.  Menunggu beberapa waktu,  ragam komentar dan apresiasi pun bersliweran. Hal ini menjadi rutinitas harian, dalam 1x 24 jam.

Tren tulis-menulis menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Tak hanya di perkotaan, di pedesaan juga demikian. Asalkan ada akses internet dan koneksi, semua asyik berselancar di dumay (dunia maya) dengan berbagai tujuan.

Jika diamati  konten tulisan pun beragam. Mulai dari sekadar mengungkapkan  masalah terkait   fasilitas publik, isu politik,wisata,  promosi bisnis/usaha, ngobrolin hobi, kegiatan sosial, even, cari pacar hingga sekadar hahahihi. Semuanya asyik dan mengalir. Meski jarak menghadang,  tak jadi maalah. Mulai dari anak SD hingga mereka yang sudah berumur.

Namun, sayangnya tak banyak yang memanfaatkan media “bebas” tersebut untuk belajar menulis dengan baik dan benar. Seringkali kesalahan teknis seperti menulis huruf kapital tidak pada tempatnya. Begitipun dengan tanca baca titik, koma. Amburadur! Kelihatannya memang sepele tapi dampaknya cukup serius.

Pernah melihat teman di medsos  yang asal cepat mem-posting sebuah peristiwa, event,  kegiatan atau apapun namun kata-kata yang membetuk pesan (kalimat)  yang  disingkat membingungkan ?  Apa makna yang sebenarnya yang  ingin disampaikan dan respon teman-temannya di medsos kadang-kadang tidak nyambung? Itu yang seringkali saya amati.  Hal ini pun kerapkali membuat  persepsi berbeda dan (mungkin)   tersinggung.

Mungkin, medsos hanya dianggap media komunikasi informal, tidak serius sehingga penyampaian informasi pun terkadang demikian.  Mengabaikan tata krama kepenulisan (baca :EYD).  Padahal, apa yang Anda tuliskan merupakan cermin kepribadian sesungguhnya.

Fatalnya lagi  kalau pemilik akun adalah adalah orang yang berpendidikan.  Seperti mahasiswa, guru, dosen, bahkan profesor.  Apalagi, kalau isi konten dalam medsos penuh “petuah” galau dan dilema. Lantas apa konsekuensinya ?

Meski tidak berdampak langsung (kecuali opini  yang berpotensi melanggar UU )  tapi secara tidak langsung moril dan  profesionalitas menjadi taruhan di dumay yang tidak menutup kemungkinan  menyeret  ke dunia nyata.

Tulisan ini bukan bermaksud  menggurui And . Tapi mengingatkan. Sebagai manusia, yang tidak luput dari kesalahan, saya, Anda dan kita semua yang eksis dari  dunia ini kerapkali melakukan hal yang serupa.

Namun, jika dilakukan secara terus-menurus, masif dan  terstruktur (#efek pilpres) adalah kejahatan yang luar biasa. Untuk itu, mari menulis dengan baik dan benar!

Share Your Thought