10859569_1002112156471063_1857720716_n
Bangunan Pura di Desa Pelepak Putih, Dusun Balitung, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Tanjung Pandang, Belitung. Pura ini dibangun oleh warga Bali yang transmigarsi di sana. (dok.pribadi)

Etnis Bali memang tak hanya ada di Pulau Bali. Sejak program tranmigrasi digalakkan oleh Rezim Soeharto. Manusia Bali dengan mudah di temukan di berbagai daerah.

Saat berkunjung ke Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung Oktober 2014 lalu. Hati saya senang, riang dan gembira.  Sebab bekerja sambil traveling tentu tidak semua orang bisa menikmatinya.

Seperti kawasan kepulauan lainnya. Pariwista masih menjadi andalan Bangka Belitung. Wilayah ini dikenal luas sebagai penghasil tambang. Bisa dibilang wilayah ini  sebagai surga para pendatang.

Dari menambang saja, sehari warga bisa mengantongi Rp 200-300 ribu per hari. Jadi tak heran, warga sekitar  malas menjadi petani. Demikian penuturan salah seorang Pejabat belitung saat lancong ke sana.

Disini terdapat berabagi suku dan agama hidup berdampingan satu dengan yang lainnya.  Namun, bukan itu yang membuat saya kepincut.  Melainkan, sejarah yang  konon dekat dengan Bali di era kerajaan dahulu. Belitong, demikian  nama salah satu wilayah di sana dikaitkan dengan Bali itu.  Seperti apa ?

Laju mini bus pariwsiata siang kala itu cukup kencang. Kami baru saja meninggalkan penginapan di Kecamatan Manggar, Kabupaten Beliting Timu (Beltim) setelah melakukan kunjungan kerja Pemprov Bali terkait kesuksesan Beltim menormalisasi hasil tambang Timah. Sebelum menuju ke Bandara Has. Hanandjoedin,  Tanjung Pandan, Belitung. Kami memasuki sebuah  desa kental dengan ‘nuansa’ Bali.

Ukiran yang menghiasi arsitektur rumah  penduduk dengan warna mencolok menjadi sorotan  rombongan. Begitupun, pelinggih(Bangunan suci)  yang berdiri di tiap rumah penduduk yang terbuat dari beton dan kayu.

“Ini kampung Bali ya, itu ada sanggahnya. Ternyata ada juga orang Bali di sini,”ujar salah seorang rombongan dalam mobil sembari menggeluarkan gadget untuk mendokumentasikan.

“Ya, ini kampung Bali pak.  Banyak yang tinggal dan suskses di sini. Nama tempatnya Balitung,”ujar Nurul, pramuwisata yang dengan lugas menjelaskan kepada rombongan. Hampir satu jam perjalanan dari Beltim, akhirnya kami sampai di Desa Pelepak Putih, Dusun Balitung, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Tanjung Pandang, Belitung.

Konon disinilah keberadaan etnis Bali bertranmigrasi sejak  tahun 1990. Mereka hidup rukun, saling menghormati dan  berdampingan dengan pendatang maupun warga sekitar. Memasuki kampung Bali ini. Kecepatan bus mini pun menurun. Kami larut dengan suasana Bali di perantauan.

Saya pun turun beristirahat. Tepat di sebuah gapura dengan warna merah, kuning dan biru disertai simbol tegangan listrik diantara dua gapura yang baru saja dibangun. Seorang pria dan dua orang wanita paruh baya nampak sibuk menyelasikan prosesi pembangunan  pagar pura.

“Yang mensponsori dari pihak PLN di sini, jadi dari warna dan tulisan berbau PLN,”ujar Gusti Kade Nayun, perantau asal Kabupaten Jembrana, saat ditemui  sedang menggarap pembangunan Pura Desa setempat.

Dengan sambutan hangat dan cakupan tangan panganjali umat ia menyambut kami. “Om Swastyatu, “lantunnya. Gusti Kade Nayun tak segan menceritakan pengalamannya yang sudah menetap di Belitung sejak 24 tahun silam.

10859385_1002112253137720_1395271529_n
Agung Komang Ariani , warga Tranmigrasi di Balitung rehat disela mengerjakan proses pembanguan pura setempat.

Mulai dari pejuangan awal bertarnmigrasi, menerabas hutan, membangun perkampungan ala  Bali hingga konsep pembangunan kahyangan desa layaknya desa adat (pakraman) di Bali.

“Kebanyakan di sini sebagai petani sawit dan karet. Yang tidak  tahan,  sudah balik dulu ke kampung,”kenang pria 62 tahun ini.  Seperti halnya tatanan sosial dan budaya di Bali, perantau  di Belitung juga tak jauh berbeda.

Tradisi masih dipegang kuat. Perayaan suci Hindu pada umumnya dirayakan sesuai dengan kalender Bali. Termasuk di pura dan merajan (pura keluarga) masing-masing.

Begitupun kesenian, tetap hidup dengan membentuk kelompok tabuh dan tari.” Di sini kami juga ada pasraman, untuk sekolah mingguan anak-anak belajar agama,”tambah Agung Komang Ariani (50) istri  Kade Nayun menimpali.

Ia mengakui, hubungan antara Bali dan Belitung memiliki kaitan. Khususnya mengenai  sejarah di masa kerajaan. Meskipun demikian, ia tidak mengetahui secara utuh ceritanya. Yang jelas, menurutnya salah seorang raja di Bali Utara dulu sempat mengusir seorang putrinya yang memiliki keturunan anak berekor. Ia pun di usir dan terdampar di kepulauan sebelah timur Pulau Sumatera yang kini dikenal dengan Bangka Belitung atau Belitong.

Mengenai kaitan sejarah antara Bali dan Belitung (Balitong)  juga diakui oleh Bupati Belitung Timur (Beltim) Basuri T. Purnama saat rombongan kami singgah ke  Komplek Perkantoran Terpadu Manggarawan. Menurutnya, sesuai dengan cerita yang berkembang di masyarakat Balitong yang yang selama dianonimkan menjadi Bali yang terpotong bukan semata mitologi.

Ia meyakini hal tersebut  pasti benar adanya. Konon sejak ribuan tahun silam, daratan Kepulauan Belitung terletak di semenanjung Pulau Bali. Namun wilayah tersebut terbawa arus gelombang besar menuju arah utara dan terdampar di sebelah timur Sumatera.

“Diceritakan seorang putri raja yang memiliki anak berekor, sang raja marah konon kemudian diusir, sampailah di sini (Belitung),”katanya. Meskipun kisah tersebut hanya cerita rakyat, Basuri masih penasaran. Apakah  Bali memiliki kaitan sejarah dengan Belitung atau tidak.

Share Your Thought