10847052_1002100349805577_761719724_n
Kondisi SD Muhamamadiah Gantong di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung yang dijadikan tempat syuting Film Laskar Pelangi. (Dok. Pribadi)

Sebuah kata bisa mengubah dunia.

Demikian sosok Andrea Hirata yang mengubah Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kini dari karya novelnya yang telah mendunia,  Laskar Pelangi.

Karya sastra yang menginpirasi 20 negara  tersebut kini menjadi branding baru kawasan tambang timah  sebagai  destinasi pariwisata yang diburu oleh pelancong di Indonesia. Berikut ini cerita disela perjalanan saya  saat mengunjungi kabupaten yang yang kini dipimpin oleh  Basuri Tjahaja Purnama, adiknya Ahok  pertengahan Oktober lalu.

Sebuah bangunan reot tak terpakai berdiri diatas pasir putih. Dinding bangunanya didominasi cat warna putih dan biru.  Terlihat tampak kusam tak terawat. Sedangkan atap berkarat kecoklatan. Di sisi kanan bangunan,nampak kayu kuat meyangga bangunan. Jika ada angin kencang berhembus, bisa dipastikan nasib bangunan tua tersebut.

Namun siang kala itu, sekelompok pria dan wanita berseragam nampak antusias mengujungi  tempat ini. Sembari bersandar di dinding yang terbuat dari papan kayu tersebut, mereka beraksi. Satu persatu mengeluarkan smartphone. Mereka mendekat dan memegang sebuah papan diatas bangunan yang bertuliskan “SD Muhamamadiah Gantong”.

“satu, dua , tigas, cheers, “ komando salah seorang pria yang membidik rombongan tersebut dengan kamera pada ponsel pintar. Mereka tak lain adalah   rombongan dari Pemprov Bali yang melakukangn Kunjungan Kerja di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) terkait pengolalan tambang timah yang nantinya akan digunakan percontohan untuk pengelolaan galian C di karangasem dan Bangli yang semrawut.

10850793_1002100626472216_1105508760_n
Eksis sejenak :)

Tempat ini  merupakan tempat bersejarah bagi tetralogi Laskar Pelangi. Sebuah novel yang menceritakan tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah  penuh dengan keterbatasan. Karya sastra  yang dirangkai oleh Andrea Hirata sebagai warga Asli Desa Gantung, Kecdamatan Gantung, Beltim kini mengubah warga desa setempat.

Jika dilihat kawasan berdirinya sekolah tersebut memang jauh dari akses keramaian. Sekolah yang berdiri diatas bentangan pasir menggunung tersebut  tanpa skat (pagar), berbeda dari  sekolah umumnya. Kesederhanaan yang diceritakan pada film laskar pelangi masih terasa saat saya  memperhatikan secara serius setiap detail bangunan sekolah.

Kumel, reot, dan tak ada unsur estetikanya sama sekali. Namun, dari sanalah, Andrea coba menceritakan kekuatan dari keterbatasan. Semangat, pantang menyerah dan keberanin lahir dari penokohan yang dibuat dari atasi majinasinya.

Bangunan sekolah ini terdiri dua ruang kelas. Satu ruangan tanpa bangku dan kursi, sementara satunya lagi hanya bersi 2 bangku. Di tiap diding, terdapat beragam coretan-coretan. Mulai dari nama pengunjung, tanda tangan, hingga pesan-pesan penyemangat atau motivasi.

“Luar biasa sekolah ini,  meski sederhana tapi bisa menghasilkan karya sekelas laskar pelangi,”ujar salah satu pengujung. Tak jauh dari sekolah Laskar Pelangi tersebut, saya  menuju  Museum Kata. Sebuah museum pertama di Indonesia  yang dibangun oleh Andrea Hirata.

Disana terdapat replika bangunan SD Muhammadiyah yang menjadi lokasi syuting Laskar Pelangi. Bangunan ini terletak di Desa lenggang, Kecamatan Gantung,  65 Km dari bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan Ibu Kota Kepulauan Bangka Bellitung.

Bangunan ini berupa bangunan rumah tinggal tradisonal. Museum ini sebelumya menjadi ini tempat tinggal Andrea dalam berkarya. Ketika masuk dalam museum ini, pengunjung akan disambut dengan suguhan kata-kata inspirasi dan gambar-gambar terkait sepak terjang novelis tersebut.

Share Your Thought