Untuk pertama kalinya Nyepi kali ini saya rayakan di Pulau Jawa. Ingin merasakan menjadi minoritas sepenuhnya.  Dan, ini dia ceritanya. 

Terik siang itu, amat menyengat.  Kulit ini nyaris terbakar dibuatnya. Sekitar pukul 11.30, burung besi saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Adi Sucipta, Yogyakata.  Syukurlah!

Saya melangkah dengan berat.  Maklum rangsel yang saya gendong lumayan berat.  Isinya macam-macam, kecuali bom :)

Seperti halnya di Bandara Ngurah Rai,  saat wisatawan mulai melongo dari pintu kedatangan,  para penjaja transportasi dengan cekatan melambaikan tangan lengkap dengan muka ramah meraka. Juga di bandara ini.

Mereka menawarkan jasa satu persatu. Sangat antusias, lengkap dengan harganya.  “Maaf sudah ada jemputan pak,”kata saya dengan senyum bijak.  Muka mereka spontan kecut dan mulai menjauh.

Akhirnya jemputan datang juga.  Saya siap menuju  Klaten,  Jawa Tengah.  Di provinsi ini bisa di bilang jumlah umat Hindu paling banyak dibandingkan di wilayah Jawa lainnya.

Meski demikian tak mudah mengidentifikasi masyarakat pemeluk Hindu di sini.  Kalau di Bali atau tempat transmigrasi,  kita dengan mudah mengetahui bahwa rumah bersangkutan didiami pemeluk Hindu.  Itu karena tempat ibadah tiap rumah sangat mencolok.  Dan, amat khas.

Tak begitu dengan di Jawa. Mereka yang memeluk Hindu pada umumnya berbaur dengan anggota masyarakat lainnya.  Tak ada penanda yang amat mencolok.  Namun,  ada juga di depan rumah mereka berdiri sebuah palinggih sederhana.

Umumnya, jamak ditemukan di Jawa Timur.  Namun tidak untuk di wilayah yang dipimpin oleh Ganjar Pranowo tersebut.  Palinggih di depan rumah masih bisa dihitung dengan jari.

Akhirnya,  hujan rintik menyambut kedatangan saya di Desa Randulanang,  Kecamatan Jatinom, Klaten.  Sekitar 60 menit dari Yogyakarta.

Selama lima hari,  saya tinggal di rumah seorang tokoh umat di sana. Obrolan menyambut Nyepi bertebaran di  tetangga rumah tempat saya tinggal. Seperti perayaan Tawur Agung Kesanga yang dirayakan secara nasional di Candi Prambanan hingga pawai Ogoh-ogoh.  Sepertinya tak kalah semarak dengan di Bali.

Perayaan Nyepi di Bali maupun di Jawa secara esensinya memang sama.  Perbedaan,  hanya mencolok saat prosesinya saja. Jika di Bali,  dari h-7 sampai h-1, umat Hindu di Bali disibukkan dengan rentetan ritus.  Mulai dari di pantai,  pura hingga pekarangan rumah.  Namun,  di Jawa di fokuskan di salah satu tempat.  Entah itu di pantai,  pura maupun candi.  Amat jarang di rumah.

Saat Nyepi berlangsung,  sambungan listrik,  siaran TV dan lalu lalang kendaraan seperti biasa berjalan. Sepertinya perayaan Nyepi tak berpengaruh. Tetap produktif.  Memang tak seperti di Bali.  Hening, dan semua aktivitas lumpuh total.

Apakah pantangan Nyepi di Jawa tak ada?

Lain Lubuk, Lain  Ikannya. Hal itu nampaknya tercermin di Randulanang. Mereka merayakan Nyepi memang tak “ekslusif .”  Di Bali,   semua umat non Hindu mesti “tunduk” dengan aturan main Nyepi. Namun, desa yang berada di  lereng Gunung Merapi tersebut  nampak cair.  Semua biasa-biasa saja.

Bagi umat yang ingin merayakan Nyepi secara paripurna,  mereka memilih berkumpul di pura.  Di sini Catur Brata Penyepian bisa berlangsung 24 jam.  Namun tak sedikit umat juga memilih  berdiam diri di dalam rumah.

Jika ada anggota keluarga yang tak menjalani Nyepi,  mereka cukup berada di seputar pekarangan rumah.  Tak banyak tingkah.  Ada juga yang merasa nyaman melangsungkan Catur Brata Penyepian di atas pukul 18.00 hingga keesokan harinya. Sangat fleksibel.

“Kalau kami seketat di Bali,  takutnya dikira sok-sokan. Meski Nyepi,  kami tetap membuka pintu rumah dan sesekali bertegur sapa,”kata salah seorang umat setempat.

Permintaan Maaf

unnamed (1)
Umat Hindu saling bersalaman usai melangsungkan persembahyangan bersama di Pura Randulanang.

Sehari setelah Nyepi,  umat di desa ini melangsungkan perayaan Ngembak Geni.  Di Bali,  biasanya diisi dengan persembahyangan atau mengunjungi rumah sanak keluarga.  Bermaaf-maafan. Kadang,  format ini tak baku seperti ini.  

Di Randulanang juga demikian.  Sejak pukul 08.00 umat sudah berdatangan ke pura.  Raut wajah mereka semringah.  Satu persatu mencakupkan tangan dan bersalaman.  Tenangnya melihat pemandangan ini.

Menariknya,  perayaan Ngembak Geni di sini tak hanya dilakukan oleh umat Hindu desa setempat. Namun,  di luar Kecamatan Jatinom turut hadir. Persembahyangan usai Nyepi setiap tahun menjadi tradisi rutin yang dikunjungi lintas kecamatan.

Pola itu diterapkan secara bergantian.  Tahun ini yang jadi tuan rumah adalah  Jatinom.  Tahun depan digilir lagi. Termasuk perayaan dharma santih.

Sembari pemangku merafal mantra pagi itu,  umat dengan khusuk turut mengiringi dengan lantunan kidung secara bersama. Sejuk dan tentram rasanya.

Persembahyangan Ngembak Geni telah usai.  Namun umat juga belum bubar.

Kenapa?

Nampaknya masih ada tahapan lagi. Satu persatu tokoh dan rohaniawan setempat berdiri dihadapan umat. Mereka memberikan sepatah dua patah sambutan serangkaian Nyepi dilanjutkan dengan petuah-petuah yang sarat etika dan moral.

Yang unik dalam Ngembak geni di  desa ini,  umat menyampaikan sebuah sumpah yang dibacakan oleh seorang tetua desa. Intinya,  tak akan mengulangi  tingkah laku buruk, saling menghargai dan menghormati  antar warga dan menjaga lingkungan.  Sumpah itu dibacakan  dengan lantang diikuti oleh umat lain dengan tertib.

Tak cukup sampai disana. Para pemuda Hindu yang diwakili oleh salah seorang koordinatornya pada pagi itu juga ambil bagian ke depan. Dengan secarik kertas,  tatapannya sendu. Menatap puluhan umat yang hadir,  bibirnya gemetar.

Mengawali dengan  “Om Swastyastu” pemuda ini dengan sorot mata bersalah menyampaikan permohonan maaf kepada para tetua desa dan orag tua mereka. Ungkapan itu juga  sebagai perwakilan dari pemuda-pemudi lainnya.   Atas kesalahan belakangan yang diperbuat.  Seperti keributan,  cekcok hingga hubungan mereka dengan satu dan yang lainnya kurang harmonis.

Gelombang suara pemuda tadi perlahan mulai berubah. Getaran nada pada kata-kata yang keluar dari bibirnya,  tak lebih dari kata salah  dan maaf. Raut wajah tak enak dihinggapi mata berkaca seolah tak kuat lagi menahan ledakan air mata yang tak tertahan.  Suasana haru tiba-tiba menyelimuti.

Beberapa orang tua dan pemudi yang menyaksikan sumpah sekaligus permohonan maaf itu,  tak kuasa menahan.  Spontan,  ada yang pura-pura membuang muka. Ada juga mengelap mata dengan saput tangan dan tisu.

Ritual terakhir  ditutup dengan salaman sembari menikmati kudapan dan suguhan  teh hangat . Nikmat!

Share Your Thought