Belakangan ini energi kita habis membaca, mendiskusikan, dan menonton  topik intoleransi menyebar di mana-mana. Tak terkecuali di ruang maya, media sosial. Ruang ini seharusnya steril. Bukannya  menjadi bensin untuk menyulut api kebencian yang menjurus SARA.

Amron, siang itu menjadi peserta terakhir yang datang dalam Diskusi Kebanggsaan yang digelar oleh Ashram Gandhi Puri, Perhimpuan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia Bali, Kesatuan Mahasiswa HIndu Indonesia (KMHDI) Bali dan Diskusi Kamisan. Acara itu berlangsung di Jl Gandapura no 22 Denpasar.

Pemilik nama lengkap Amron Sudarmanto ini merupakan pimpinan GP Ansor  Bali. Tak hanya organ  pemuda Islam ini saja yang diundang mengikuti diskusi. Ada  Pemuda Theravada Indonesia Bali dan Pemuda Kristen.

Namun sayang kedua organisasi tersebut tak bisa hadir. Maklum, acara yang berlangsung Senin (30/1) lalu  adalah hari produktif. Waktunya orang bekerja bukan berdiskusi.

Amron, nampak mengatur nafas panjang saat tiba. Seperti kebanyakan orang Indonesia ketika terlambat datang dalam acara tertentu,  ia cukup melempar senyum tak berdosa. Ya sudahlah.

Sejam sudah diskusi berlangsung. Acara diarahkan oleh Yoga Segara, pencetus  Diskusi Kamisan di kalangan akademisi yang juga Antroplog IHDN Denpasar. Ia mendampingi Indra Udayana selaku pembicara tunggal sekaligus pengasuh Ashram Gandhi Puri.

Sementara itu, Indra udayana membeberkan penjelasan secara singkat perjalanan Hidup Mahatma Gandhi, yang menjadi topik pada dikusi Spirit Gandhi Melawan Kekerasan, Intoleransi dan Radikalisme pada kesempatan  itu.  

Diskusi tersebut  mencoba untuk memaknai perjuangan Gandhi, tokoh berpengaurh India dalam menaklukkan penindasan  dengan prinsipnya yang popular,  tanpa kekerasan (ahimsa). Dilanjutkan dengan,  bagaimana saat ini  mengaktualisasikannya.

Topik yang relevan untuk mengatur tensi anak negeri ini yang sudah kadung sensi dengan urusan SARA.

Amron menyimak dengan serius. Sesi sharing pun dimulai. Ada yang bertanya, hingga mengajukan pernyataan. Giliran Amron diperkenankan. Ia mungkin sudah tahu bahwa isu SARA belakangan ini mencuat dan menjadi obrolan mengalahkan berita selebritis.

Ia paham betul, tuduhahan itu pasti mengait-ngaitkan Islam, keyakinan yang dianutnya. Sebab, ormas yang belakangan  getol dituding  mengoyak kebhinekaan kerapkali menyeret-nyeret kepercayaannya   sebagai tameng. Tahu kan Ormas  yang dimaksud siapa.

“Islam yang menentang Pancasila  ya bukan Islam sesungguhnya,”kata Amron, mantap. Sebagai bagian dari keluarga besar Nahdatul Ulama (NU), organisasi berhaluas religius-nasionalis, ia mengakui bahwa para pendiri seperti Kyai NU memegang teguh prinsip sejak dibentuknya NKRI.

Tetap merawat keberagaman daan keutuhan NKRI. Amron juga panjang lebar menjelaskan mengenai ideologi yang diemban oleh NU, termasuk  Ansor.

“Sikap kami  jelas tidak setuju adanya khilafah apalagi  NKRI   bersyariat,”tambahnya meyakinkan  peserta diskusi yang datang.

Diskusi berlangsung cair, sesekali gelak tawa memecah keseriusan. Memang sang moderator, Yoga Segara lihai untuk urusan ini.

Amron kembali berkomentar serius. Ia mengaku terusik dengan  Ormas-Ormas yang belakangan mengklaim diri sebagai perwakilan umat Muslim di seluruh Indonesia.

Apalagi setiap tingkah dan polah mereka tak mencerminkan Islam yang santun, damai dan teduh. Namun sebaliknya, menebar kebencian.

“Jujur kami kena getahnya,”ujar pria yang sudah 21 tahun menetap di Bali tersebut.  Ia mereflkesi kisah kelam di Pulau Dewata puluhan tahun silam. Bom Bali I dan II, kata Amron, jadi klimaksnya.

Jihad yang dilakukan oleh para “pengantin” yang meledakkan bom di kawasan pariwiata  seperti  Legian dan Jimbaran adalah pukulan telak dan memalukan bagi Muslim di Bali.

Jikalau memang aksi yang menelan ratusan korban jiwa tersebut mengatasnamakan Islam, “Kenapa ada sopir Taksi dari Muslim yang pulang tanpa kepala? Itu konyol. Wong, Islam banyak cari nafkah di sana,”kata Amron.

Pada kesempatan itu, Amron ingin melurukan bahwa wajah Islam tak seberingas di layar kaca. Apa yang diajarkan oleh NU, adalah Islam yang menghargai perbedaan, cinta kasih dan  memanusiakan manusia.

Namun, sepertinya nila setitik rusak susu sebelanga. Simbol -simbol orang berjenggeot, celana jingkrak  dan berpeci kini akrab dengan pelaku radikalisme. Hal itu tak ditampik Amron. Bahkan, tak sedikit pelaku terorisme kini berjubah agama dalam melakukan aksinya.

Sekali lagi, kata dia imbasnya muslim di kantong-kantong minoritas yang menjalankan agama dengan waras.

Pernah suatu ketika, seorang haji masuk gang di Denpasar yang dihuni oleh penduduk lokal (mayoritas Hidu). Melihat penampilan haji bersangkutan  lengkap dengan busana gamis dan berkopiah, anak-anak di kawasan gang berteriak kencang nan lengking.

“Ada FPI… ada FPI…,” cerita Amron disambut riuh tawa peserta diskusi.

Share Your Thought