Dalam setiap mengakses informasi di media massa, entah cetak, elektronik atau onlilne apakah  Anda begitu tertarik dengan tayangan atau membaca  iklannya hingga tuntas?

Kalau tidak, berarti selera kita sama!

Setiap kali menyaksikan tayangan atau acara di layar kaca kerapkali kita mulai pasang kuda-kuda.Berpindah channel untuk menikmati sajian acara favorit. Kita tak mau dijejali produk komersial. Tidak. Saya, mungkin juga Anda sudah  cerdas untuk  urusan itu. Kecuali, iklannya betul-betul soft selling.  Ada  nilai-nilai edukasinya. Dan,  bermanfaat.

Jadi,  jangan heran, media massa yang tidak becus mengatur tata letak iklannya dengan baik, terkadang ditinggalkan oleh pembaca.  Yang mereka cari  informasi, bukanlah iklan.

Sadar akan hal itu para pemasnag iklan mulai sadar dan tobat. Mereka mulai merambah cara pemasangan iklan yang relatif halus.  Soft selling. Memodifiksi pesan-pesan promosi yang enak “dinikmati’. Ya, advertorial! Sebuah jendre periklanan yang disajikan dengan gaya bahasa jurnalistik.

Advertorial sebenarnya serapan dari bahas Inggris yakni advertising dan editorial. Periklanan  (Advertising ) merupakan penyajian materi yang bertujuan untuk mempersuasi publik melalui media massa yang tak lain memiliki motif untuk mempromosikan barang dan jasa.

Sedangkan editorial berupa pernyataan  tentang opini yamg merupakan sikap resmi dari redaksi. Kedua  produk idealis dan komersil tersebut dilebur yang kemudian melahirkan iklan ala berita bernama advertorial.

Produk jurnalistik dalam surat kabar misalnya, kerapkali barang atau jasa yang di –advertorial dikemas khusus. Desainnya pun umumnya sangat mencolok, terutama dalam pemilihan warna. Biasanya menggunakan berbagai sebutan misalnya komunikasi bisnis, info bisnis, nama barang atau jasa tertentu  dan sejenisnya.

Dan, kabar buruknya, advertorial yang terang benderang menggembar-gemborkan kehebatan produk atau jasanya mulai ditinggalkan konsumen. Antipati.  Tentu kondisi ini akan merugikan perusahaan atau organisasi yang ingin melambungkan citra dengan waktu singkat. Namun, hasilnya jauh panggang dari api. Pada akhirnya, pasang iklan sia-sia dan merugi bukan ?

Publikasi Gratis

Memang di era digital saat ini, media massa memiliki peran yang sangat strategis dalam membagun kepercayaan dan opini  publikTak bisa disangkal lagi. Apalagi didebat. Jangan.

Namun, kesalahan sebagian besar seseorang menganggap dengan membeli space iklan/advertorial  dengan ukuran tertentu akan dengan ampuh mengembalikan citra atau Image produk atau jasa. Kalau cepat dikenal, iya!

Namun, ada cara yang lebih ampuh untuk membagun komunikasi efektif alias low budget  hight impact yakni  Public Relation (PR). Kekuatan dari PR ini  bisa menjembatani proses interaksi dan berkomunikasi kepada audience secara luas tanpa sekat ruang dan waktu. Ia mampu membangun pesan atau opini publik dengan kuat dan bertenaga.

Perlahan, tapi pasti mereka yang membangun kredibilitas dengan PR yang jitu akan memunculkan sentiment atau citra  positif.  Membangun pengenalan merek hingga mendorong pemasaran. Lalu, caranya ?

Dibanding iklan, PR memang lebih perkasa dalam membangun opini publik. Salah satu strategi yakni dengan masuk ke dalam tools PR yakni  publikasi.  Pemberitaan media massa. Membangun relasi dengan awak media agar tetap menjadi media darling adalah tantangan.

Meski demikian, tidak mustahil. Untuk memperoleh dukungan pemberitaan media, produk atau jasa tertentu yang digerakkan oleh korporasi atau perusahaan harus memiliki bahan informasi yang beragam.

Dengan catatan, konten yang disajikan penting dan pantas di konsumsi oleh publik. Baik sifatnya informatif, edukatif, menghibur, dan juga bisa memberikan kontrol sosial. Semua sifat itu merupakan prasayarat sebuah informasi pantas disuguhkan media dan menjadi perbincangan publik yang dikemas dalam berita.

Jika sudah  masuk dalam zona itu, tentu bobotnya jauh berbeda dengan advertorial dan juga lebih kredibel. Bahkan, dalam sebuah studi di Harvard Business School (ehm, sori sumbernya berat banget :)  )  mengestimasi bahwa nilai berita yang berkaitan dengan produk, perusahan dan jasa,  setara dengan pengeluaran  sepuluh kali lipat cost  untuk membayar space iklan/advertorial atau air time dari sebuah iklan.

Jadi, mau pilih advertorial atau PR ?

Share Your Thought