jelang-pilgub-dki
sumber foto di sini

 

Fenoma Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) belakangan menjadi sorotan. Kehadiran mereka banyak yang menentang. Meskipun di satu sisi ada pula yang membela atas nama HAM. LGBT pun jadi tranding topic.

LGBT sempat menjadi daftar kesekian berita headline news di media nasional. Baik cetak maupun elektronik. Tak terkecuali, media lokal juga ikut-ikutan menyajikannya. Berbagai komentar miring melabeli “mahluk” satu itu. Bagi yang pro, berdalih alasan kemanusiaan.

LGBT dinilai suatu penyimpangan seksual yang tidak disengaja. Atau, bukan karunia Tuhan sejak lahir. Melainkan, muncul saat di tengah jalan karena lingkungan dan pergaulan. Intinya, bagi pengidap LGBT, kondisi itu tidak diinginkan.

Sementara, bagi yang kontra jelas memberikan argumentasi yang tak kalah rasional. Yakni, tak sesuai dengan norma apalagi agama yang berkembang di Indonesia. Bahkan, MUI sejak 2014 lalu mengeluarkan fatwa ekstrem bahwa keberadaan LGBT dilarang. Wajar, masalah halal dan haram memang keahlian MUI.

Organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini bahkan merekomendasikan untuk menyusun UU soal itu. Meski sampai saat ini belum digubris serius oleh wakil rakyat di Senayan. Mendengar isu ini santer di media, elit anggota dewan tak tinggal diam. Seperti biasa mereka menebar opini di setiap media massa.

Rajin menghadiri undangan di acara talkshow TV berita nasional yang disiarkan secara live. Tentu, sembari ngecap atas virus-vius LGBT di perkotaan. “Generasi muda mesti waspada,”demikian diantara peringatan wakil rakyat tersebut bersua dengan bijak.

Riuhnya menyikapi LGBT tak hanya di dunia nyata. Di dunia maya tak kalah seruh. Pro–kontra tetap terjadi. Bahkan, aktivis kemanusian berupaya memberikan alasan-alasan masuk akal agar tetap melindungi kaum LGBT. Mengingat, mereka juga bagian dari warga negara Indonesia.

Berbagai tautan artikel pembelaaan beredar luas. Begitupun yang kontra. Meme mengglitik disebar secara viral. Jelas, menolak keberadaan sosok LGBT yang berkepribadian ganda tersebut.

Namun, entah kenapa tiba-tiba seorang pria yang di cap “LGBT”itu tampil dihadapan publik. Gayanya amat klimis dengan balutan jas yang kerapkali dikenakan saat terekam awak media. Tanpa ragu dan malu.

Ia pun tak segan berkomentar saat diwawancarai oleh media. Bahkan, dengan senang hati ia juga diliput. Di akun twiiter miliknya, ia kerap kali menyapa para pengguna media sosial burung tersebut. Meskipun, tak sedikit ia kerapkali di bully.

Dikalangan pejabat, lelaki itu cukup dipandang. Ia dikenal sebagai pakar hukum tata negara, politikus dan intelektual Indonesia. Bahkan, pernah menduduki jabatan strategis di masa pemerintah presiden Abdurrahman Wahin, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Belakangan tersiar kabar, bahwa Pilkada 2017 di Jakarta nanti ia bakal siap menantang Basuki Purnama alias Ahok untuk head to head. Bahkan, namanya ikut terjaring dalam survei kandidat jelang Pilkada Ibukota. Kalau dilihat dari background, nampknya pria 60 tahun ini memang bukan “LGBT” biasa.

Sepertinya, keinginannya untuk membenahi Jakarta kian bulat. Dalam akun twitternya, terpampang beberapa foto saat ia blusukan ke pasar tradisional. Penampilannya, persis orang kampung. Terekam bahwa ia sedang berbelanja sayur dan ikan segar. Tentu, cara ini tergolong klasik untuk bekenalan dengan publik jelang Pilkada.

Usai berbelanja, ibu-ibu di pasar kepincut untuk selfie bareng. Dengan mengenakan kaos Mickey Mouse dan berlagak seperti orang desa, lelaki itu pasrah. Kemudian memasang muka murah senyum.   Gaya pria ini total berubah 180 derajad.

Hal ini jelas mendadak membuat shock para netizen. Maklum, selama ini pergaulannya “jarang” terlihat ke segmen kelas bawah. Semua serba premium dan VVIP. Termasuk tampilannya. Apa benar calon gubernur Jakarta itu seorang LGBT?

“Ya, dia memang sosok Lelaki Gagah Berkaos Tikus (LGBT) !“demikian cetus netizen di medsos.

Siapa gerangan dia ?

Share Your Thought