gmt
sumber foto: detik.com

Setiap tahun Indonesia merayakan berbagai jenis tahun baru. Tak sekadar sebagai simbol perayaan agama yang sarat dengan seremonial dan harapan baru. Tapi juga sebuah spirit kehidupan yang lebih manusiawi , humanis dan beradab.

Perayaan Nyepi atau tahun baru saka 1938 yang dirayakan umat Hindu, Rabu (9/2) lalu nampaknya istimewa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, hari tersebut bersamaan dengan gerhana matahari total (GMT).

Tidak semua masyarakat bisa menyaksikan keindahan fenomena alam langka ini. Kecuali bagi warga Palembang, Bangka Belitung, Palu dan Maluku Utara. Bahkan, tersiar kabar Presiden RI Joko Widodo dan beberapa mentri kabinet kerjanya bakal menyaksikan keindahan momen langka tersebut di Bangka Belitung.

Sementara media massa tak henti-hentinya menyajikan informasi ini. Bahkan, awak media memberikan porsi khusus akan menggelar live report gerhana matahari dari berbagai titik di Indonesia.

Sejurus dengan hal itu, peristiwa ini nampaknya jadi potensi wisata baru. Turis, pecinta astronomi dan ilmuwan bahkan berbondong-bondong jauh hari sebelumnya ke Indonesia. Mereka siap menikmati “antraksi” alam di peritiwi Nusantara.

Perangko dan Mitos

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) melalui PT Pos Indonesia bahkan meluncurkan seri perangko terbaru bertema gerhana matahari total, Sabtu (27/2) lalu. Peluncuran tema ini dalam rangka menyambut fenomena GMT.

Ia menjelaskan perangko yang didesain kali ini bertemakan legenda mitologi yang berkembang di masyarakat Indonesia dahulu kala. Menurutnya, desain seperti ini menunjukkan keunikan khas Indonesia yang tidak dimiliki negara lain.

Pada perangko diilustrasikan sosok raksasa bernama Bhatara Kala yang tengah menelan matahari. Mitos ini merupakan hikayat yang berkembang pada zaman dahulu saat gerhana matahari terjadi.

Bahkan secara spesifik, dalam purana yang merupakan bagian dari kesusastraan Hindu memuat mitologi dan legenda tentang gerhana matahari. Kisah itu terangkup secara apik dalam epos Kala Rahu Menelan Bulan.

Mitologi ini menggambarkan, ketika para raksasa dan para dewa mengaduk lautan susu untuk mencari Tirtha Amertha (Tirtha Kamandalu). Konon siapa saja yang meminum tirtha atau air suci itu maka ia akan hidup abadi.

Setelah tirtha itu didapatkan kemudian dibagi rata. Tugas itu dilakukan oleh Dewa Wisnu yang menyamar menjadi gadis cantik nan lemah gemulai. Dalam kesepakatan diatur bahwa para dewa duduk dibarisan depan sedangkan para raksasa dibarisan belakang.

Raksasa bernama Kala Rahu pun menyusup dibarisan para dewa, dengan cara merubah wujudnya menjadi dewa. Namun penyamarannya segera diketahui oleh Dewa Candra atau Dewa Bulan. Ketika tiba giliran Raksasa Kala Rahu mendapatkan air suci, disitulah Dewa Candra berteriak. “Dia itu bukanlah Dewa, tapi Raksasa Kala Rahu”.

Namun sayang tirtha sudah terlanjur diminum. Kemudian, Cakra Dewa Wisnu menebas leher Sang Kala Rahu. Meski demikian, karena lehernya sudah tersentuh oleh Tirtha Keabadian, sehingga tidak bersentuh oleh kematian. Wajahnya tetap hidup dan melayang-layang diangkasa. Sedangkan tubuhnya mati.

Sejak saat itu dendamnya terhadap Dewa Bulan tak pernah putus-putus, dia selalu mengincar dan menelan Dewa Bulan pada waktu Purnama. Tapi karena tubuhnya tidak ada maka sang rembulan muncul kembali kepermukaan. Begitulah mitologi yang berkembang.

Esensi Nyepi

Nilai-nilai Nyepi dari berbagai tempat juga merupakan diplomasi yang ramah terhadap toleransi, lingkungan dan kemanusiaan. Tengoklah Bali. Perayaan Nyepi 24 jam mampu melumpuhkan penerbangan dari berbagai destinasi di Indonesia dan dunia

. Belum lagi seluruh pintu masuk di pelabuhan ditutup. Aktivitas penyiaran seperti radio dan tv juga tak beroperasi. Listrik dipadamkan. Sementara, Umat non Hindu dengan senantiasa ikut menjaga keamanan dan ketertiban.

Perayaan tahun baru saka ala Nyepi memang sedikit unik. Jika pergantian tahun identik dengan pesta, euforia, wara-wiri dan bergembira. Nyepi malah sebaliknya. Tanpa aktivitas. Sepi. Bahkan, ada empat hal wajib dilaksanakan bagi mereka yang menjalani dengan dengan total.

Amati Gni,   tidak menyalakan api secara fisik maupun api dalam diri (nafsu). Amati Karya, tidak beraktivitas atau bekerja. Amati Lelungan, tidak bepergian ke luar rumah. Amati Lelanguan,   tidak bersenang-senang dengan medium hiburan apapun. Jadi betul-betul hening.

Perayaan ini, memiliki makna yang sangat dalam dan universal yakni pengendalian diri. Reflektif dan kontemplasi tingkat tinggi.

Jika ditarik benang merah antara GMT dan Nyepi memiliki pesan utama yang penting. Mitologi Bhatara Kala atau Sang Kala Rau yang menelan bulan sehingga terjadi Gerhana, merupakan cerminan dari sifat serta karakter manusia yang rakus.

Tak mudah puas dan berkecukupan. Pada akhirnya, korupsi dengan segala turunan dan manifestasinya menjadi pilihan. Sebenarnya, GMT yang kita saksikan, Rabu (9/3) lalu merefleksikan manusia itu sendiri.

Kita akan menyaksikan bagaimana sinar kebaikan umat manusia ditutupi oleh sinar kegelapannya sendiri. Sedangkan spirit Nyepi, meretas kegelapan untuk lebih dalam melakukan kotemplasi.

Selamat menikmati GMT dan Hari raya Nyepi bagi yang merayakan!

 

nb; Tulisan ini ditolak di media mainstream, saya posting di sini. Maklum, jika kurang up to date 😉

Share Your Thought