permalukan-koruptor-melalui.289
foto dari sini

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sejak lama dipandang sebagai perkumpulan untuk membela masyarakat lemah. Mereka dikenal sosok yang vokal sekaligus kritis. Mereka juga rajin menyikapi isu kekinian.

Cobalah sekali waktu baca berita atau tayangan reportase di TV. Manusia-manusia kritis tersebut begitu gagah dan menggebunya berpendapat.

                                                                                    ***

Siang itu ponsel seorang kawan wartawan berdering kencang. Tanda panggilan masuk. Tak ingin berlama-lama nada smartphone-nya berteriak. Sang kawan dengan sigap menyambar.

Nomor yang tertera dalam layar ponselnya bukanlah asing. Ia kenal. Seorang pentolan LSM. Tak lain adalah salah satu narasumber yang sempat ia beritakan pada terbitan surat kabar lokal di Bali, tempatnya bekerja.

Jika ada orang pemerintahan atau pun LSM menelpon, biasanya ia memperoleh bahan  untuk diberitakan keesokan harinya. Tapi kali ini nampaknya sebaliknya. “LSMnya malah tanya-tanya informasi. Isu apa yang sedang berkembang,”ceritanya kepada saya.

Ia mengaku kesal kalau sudah seperti ini. Si LSM terkadang mengorek informasi sedetail mungkin. Apalagi kalau sudah berurusan pelanggaran pembangunan di pusat-pusat pariwisata di Bali, khususnya di Kabupaten Badung. ( Maklum, di kawasan  Bali Selatan inilah Gemah ripah loh jinawi -nya Pulau Dewata.)

Pelanggaran biasanya dilakukan  dilakukan oleh pihak hotel, pusat perbelanjaan maupun villa. Yang ia sesalkan yakni informasi yang diperoleh digunakan sebai bahan “ancaman.”

Seperti biasa, setelah informasi pelanggaran  pembangunan dengan detail dikorek. Kelompok LSM tersebut dengan serius menggarap isu tersebut. Tak segan, jika mega proyek bernilai fantantis dan dimiliki oleh seorang taipan atau investor besar. Mereka pun mulai melancarkan aksi.

Dengan jaringan dan modal relasi wartawan yang dimiliki, konfrensi pers jadi jurus pamungkas. Dengan cerdas, si LSM pun mengkemas hasil infomasi yang diperoleh. Seprofesional mungkin dihadapan kuli tinta.

Dengan meyakinkan, tambah sang kawan yang kebetulan ngepos di kantor pemerintahan. Oknum LSM pun kemudian membeberkan “temuan” pelanggaran. Tak luput Pemerintah dinilai abai untuk mengawasi pembangunan.

Agar terlihat “berisi” dan bernuansa sedikit akademis, biasanya dibumbui dengan kutipan pasal-pasal yang diolah dari Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Gubernur (Pergub). “Sepintas, mereka terlihat cerdik,”ujar sang kawan menggerutu. “Padahal mereka (LSM) hanyalah cari perhatian,”katanya menambahkan lagi.

Kalau sudah demikian, kata dia, keesokannya , akan menjadi berita besar. Tak jarang jadi headline news di koran-koran lokal. Sementara,  Si empunya proyek pun biasanya merespon. Melakukan hal serupa. Berkomentar di beberapa media.  Atau menggelar konfrensi pers tandingan. Biasanya mereka sibuk mengundang wartawan lokal untuk memberikan klarifikasi dengan ragam alasan.  Esoknya,  kembali diberitakan. Si LSM tak mau kalah.

Mereka kembali membalas dengan kritikan pedas. Mereka mencari titik lemah pendiri atau pemilik proyek sedalam-dalammnya. Kalau sudah begini, biasanya wacana tersebut akan terus bergulir hingga memperoleh perhatian masyarakat.

Perlahan tapi pasti, dari sinilah opini publik di bentuk. LSM pun memperoleh dukungan atas “perjuangan” tersebut. Kalau sudah begini, para tokoh atau akademisi lainnya pun akan ikut “nimbrung “ di wawancara dengan basis keilmuan masing-masing. Seolah memberikan dukungan moral atas apa yang dilakukan si LSM.

“Misi LSM pun tercapai,”ujar sang kawan. Ketika pemberitaan sudah melebar ke mana-mana. Posisi pemilik proyek di atas mulai cemas. Apalagi, jika pemerintah setempat juga memojokkan dan siap memberikan teguran. Jika membangkang, izin pembangunan bakal di cabut.

Yang patut dicurigai,kata sang kawan, jika pemberitaan mulai kendur dan relatif tenang. Publik patut mempertanyakan. “Ada apa  diantara mereka ?” ketusnya.

Disokong Politikus

Kalau sudah mencapai kondisi yang pelik, barulah legislatif turun memantau. Anggota dewan seperti biasanya, membawa “pasukan” awak media untuk memantau apakah yang dipermaslah kan LSM bersangkutan betul-betul nyata atau sebaliknya.

Biasanya, usai kunjungan, wartawan akan meminta wawancara terkait kasus pelanggaran yang dilakukan. Berita yang diterbitkan pun kian memaksa investor atau pengusaha angkat tangan.

Sama seperti LSM, ketika para wakil rakyat dalam kunjungan awalnya berkoar kencang tentang pelanggaran. Hari berikutnya, jika mulai mengendur patut dicurigai. “Pasti sudah ada deal-deal antara mereka.”

Belakangan, kekesalan teman saya bertambah kalau LSM bersangkutan ternyata memiliki hubungan baik dengan anggota dewan bersangkutan.Mereka dinilai bersimbiosis. Berseketu baik. Memliki hubungan yang saling menguntungkan. “ LSMnya yang menggonggong, anggota dewannya yang mengeksekusi,”tambahnya lagi.

Keapatisannya dengan  LSM tak bisa dibendung lagi. Apalagi mereka mengklaim diri sebagai perkumpulan  yang peduli dan getol  memantau pembangunan atas nama lingkungan.

“Kami sebagai wartawan hanya diperalat saja. Sama seperti aparat penegak hukum. Apalagi baru menjabat. Mereka awalnya  agresif. Setelah diperhitungkan, punya bargaining, toh pada akhirnya bersekongkol. Picik,”ucap sang kawan menyudahi obrolan.

Saya pun hanya manggut-manggut…

 

One thought on “Ketika LSM Bersekutu dengan Politikus

  1. Ini tidak lepas dari fakta bahwa Suriah adalah negara yang kuat secara militer dan selalu menunjukkan sikap perlawanan dan ancaman terhadap Israel sejak awal sejarahnya, termasuk dengan bersekutu bersama Iran, Hamas dan Hizbullah. Kondisi demikian membuat Israel, Amerika, NATO dan sekutunya di Timur Tengah turut berkepentingan mereformasi dan menumbangkan Assad.

Share Your Thought