jurnalis
sumber foto: di sini

Siapa yang tak kenal sosok orang yang berada dibelakang layar saat publik menikmati sajian berita di koran, majalah, media online, radio  hingga TV ?

Dialah wartawan. Mendengar seseorang berprofesi ini hanya ada dua hal yang terbayang. Kawan atau lawan!

Berhubungan dengan wartawan seringkali diadagiumkan “benci tapi rindu”. Bagi para pengusaha atau pejabat yang sedang tertimpa kasus, berhubungan dengan wartawan merupakan “musibah” tersendiri. Begitupun sebaliknya, bagi yang membutuhkan publikasi entah untuk peliputan acara seremonial maupun peristiwa penting kehadiran sang kuli tinta sangat dielu-elukan. Lantas, bagaimana agar Anda bisa memiliki hubungan yang win-win dan saling menghormati? Hal -hal di bawah ini mungkin bisa dilakukan agar memiliki hubungan yang sehat dan berkelanjutan dengan si jurnalis.

1.Kenalan

Seperti halnya mencari teman seperti pada umumnya. Berkawan dengan wartawan juga demikian. Anda harus memahami karakter dan kebutuhan yang diinginkan oleh wartawan. Tapi jangan berprasangka buruk dulu. Kebutuhan utama wartawan adalah  informasi, informasi dan infomasi.

Dimana bisa berkenalan dengan wartawan? Gampang. Kehadiran media sosial saat ini memudahkan siapapun, kapanpun dan dimanapun untuk berinteraksi. Temasuk dengan wartawan. Anda cukup menghubunginya melalui akun media sosial yang dimiliki. Tentunya, wartawan yang Anda akan ajak berkenalan sudah ditentukan sebelumnya dari berita-berita liputan yang Anda nilai “berkualitas”. Atau bisa ditempuh dengan cara offline. Bisa menguhubungi sekertaris redaksi media tersebut dan tanyakan no hp bersangkutan. Tentunya dengan alasanya rasional, pemberitaan. Bahkan Anda bisa berkenalan dengan lebih dari satu wartawan dalan waktu singkat.

Caranya?

Ikut menjadi panitia inti dalam acara press confrence yang digelar oleh perusahaan, organisasi atau komunitas yang sedang menggelar even. Atau bisa dengan cara manual namun tak kalah efektif. Datang ke tempat kejadian perkara (TKP) saat berbagai media melakukan peliputan secara massal. Dan, mulailah berkenalan.

2.Akrab

Jika sudah saling mengenal. Langkah yang dilakukan selanjutnya adalah komunikasi seintens mungkin untuk menjalin keakraban. Jika berkomunikasi via telpon atau sms dirasa kaku. Mengomentari status di akun facebook atau me-retweet postingan si wartawan lewat twitter juga bisa dilakukan. Berkomunikasi seperti ini pun terasa lebih cair.

Untuk diketahui, wartawan pada umumnya memposting berita maupun foto di akun media sosialnya yang ia liput. Jangan lupa bubuhkan komentar. Tak ada salahnya Anda memberikan masukan-masukan untuk menambah agenda liputan sang wartawan. Tentu sebaliknya, sang wartawan akan menerima masukan tersebut dengan senang hati. Jika hal ini dilakukan secara konsisten, Anda sudah memasuki zona akrab. Lanjutkan!

3.Jaga Jarak

Terkadang sulit menerapkan hal ini kalau sudah terlalu akrab. Sebenarnya etika ini juga menjadi tanggung jawab moral sang wartawan dihadapan narasumbernya/relasi.

Untuk diketahui, hal ini juga kerapkali diingatkan oleh editor/redaktur, pimpinan redaksi dan pimpinan umum dimana wartawan bekerja. Agar para wartawan tidak terlalu dekat dengan para narasumbernya. Mereka dituntut seprofesional mungkin. Hal ini dilakukan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari. Misalnya, ketika narasumber tersandung kasus, dikhawatirkan wartawan enggan meliput karena “berkawan”. Jadi harap dimengerti.

4.Berikan Bantuan

Jangan sungkan untuk memberikan bantuan kepada wartawan sesering mungkin. Semakin sering dan tanpa pamrih Anda memberikan batuan kepada wartawan. Ada banyak hal bantuan sebaliknya yang tak terduga yang akan Anda rasakan. Lalu bantuan apa yang pas untuk si wartawan? Jangan salah tafsir dulu. Bukan bantuan materi. Melainkan bantuan sumber infomasi dan peristiwa menarik yang terjadi.

Namun, tak sedikit narasumber yang kurang memahami profesi wartawan,  bantuan yang diberikan selama ini sifatnya pragmatis dan transaksional. Kasarnya, sogokan dalam rupa amplop. Basa-basinya pada umumnya istilahnya sebagai uang rokok atau bensin. Ada juga pula oknum yang mengaku wartawan memanfaatkan situasi dan kondisi ketika para narasumber “bermasalah”. Jika Anda mengetahui belang wartawan seperti itu, ada baiknya perlahan meninggalkannya dengan cara halus dan teratur.

5.Ekpert

Jika ada ingin menjadi langganan narasumber para awak media. Tentunya harus menguasi isu kekinian. Baik dibidang politik, sosial, budaya, agama,lingkungan, ekonomi dll . Modal titel akademis saja tidak cukup. Wartawan tak hanya membutuhkan narasumber yang meyakinkan dari segi penampilan, tapi juga berkualitas. Untuk meyakinkan wartawan agar Anda digait menjadi naraumber utama hanya ada satu kata kunci. Anda harus expert dibidangnya.

Ekpert tidaknya seoang narasumber bisa dinilai dari pertimbangan jejak rekamnya. Mulai dari karya tulis (buku, jurnal) yang ditulisnya, intensitas menjadi pembicara dalam sebuah forum (seminar, talkshow, FGD, konfrensi dll), praktisi, dan aktif dalam berbagai organisasi. Idealnya mereka dikenal oleh publik atau stakeholders.

6.Daya Tarik

Tak banyak narasumber bisa membuat kesan yang menarik pada wartawan. Dominan selama ini mereka dihargai karena kapasitas, jabatan dan kemampuannya yang mumpuni dibidangnya (ekpert). Sehingga, selain penilain itu, di mata wartawan narasumber begitu “kering”. Agar bisa menarik perhatian wartawan, buatlah wartawan “ketagihan“ untuk meliput atau mewawancarai Anda. Karena mereka juga membutuhkan berita yang tak melulu serius.

Jika Anda seorang narasumber, bikin sesuatu/hal yang menarik. Menarik disini artinya kegiatan, aksi maupun pemikiran yang digagas memiliki news value hight. Berita yang akan dihasilkan memiliki nilai tinggi karena memiliki dampak besar. Menarik dalam hal ini seperti bersifat aneh, unik, ‘kontroversial’, human interest, prestasi, solusi dan sebagainya.

Jadi, sudah siap berkawan dengan wartawan ?

3 thoughts on “6 Cara Berkawan dengan Wartawan

  1. herry wie-jaya

    Gmn cranya anak sy bs msuk tv.pngn jd iklan Atau sponsor.anak sy pinter cerdas dll

  2. Terimakasih sudah berkunjung pak Herry. sebenarnya pertanyaan bapak sulit saya jawab, karena saya belum pernah menanganinya langsung. :) apalagi di TV. saya jurnalis di koran jadi agak jauh hubungannya meskipun sama2 media massa.

    tapi setahu saya, biasanya untuk menjadi bintang iklan atau sposnor, sebuah produk tertentu menggelar casting khusus. untuk lebih lengkapnya, biasa cari informasinya di mbah google 😉

    bisa kunjungi website produk tertentu. siapa tahu ada lowongannya.

    demikian.

  3. Ketika korban pertama melakukan laporan, Goenawan Mohamad, begawan Salihara dan kawan dekat Sitok, entah sengaja atau tidak membroadcast rilis statement Sitok ke sebuah group chat berisi wartawan-wartawan senior yang menyertakan dengan terang benderang nama korban.

Share Your Thought