ktp ahok
sumber foto: temanahok.com

“Teman Ahok Kini Ada di Mall BayWalk Pluit…”

Kalimat tersebut menyambut saya saat mengakses situs www.temanahok.com. Situs ini merupakan gerakan  para relawan untuk mendukung pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Jakarta. Gerakan ini belakangan juga konsen untuk mengumpulkan identitas warga kota, KTP untuk mendukung  Gubernur Jakarta tersebut  untuk maju sebagai Gubernur pada 2017 mendatang melalui jalur independen.Tak main-main para relawan menarget pengumpulan KTP sebanyak 1 juta!

Kembali pada situs tersebut. Pengunjung dapat memantau langsung progres pengumpulan KTP. Baik yang berlangsung hari ini, seminggu terakhir, satu bulan ini hingga total keseluruhan KTP yang terkumpul.

Dalam situs ini juga dijelaskan cara untuk mengumpulkan KTP yang disediakan oleh Teman Ahok yakni dengan mendownload formulir yang sudah disiapkan untuk dilengkapi indentitas diri kemudian dikirim via pos. Atau bisa juga datang langsung mengunjungi posko yang tersebar di beberapa titik di Jakarta dengan membawa KTP. Khusus untuk para TNI/POLRI dan PNS dilarang untuk mengikuti gerakan ini.

Menariknya, untuk menjaring warga kelas menengah atas, para relawan membuka booth di mall yang tersebar di Megapolitan tersebut. Tak sampai di sana saja, para relawan juga  membuka posko-posko di kelurahan baik di rumah warga, ruko bahkan toko. Selaian  didirikan secara aktif oleh Teman Ahok, ada juga yang didirikan atas inisiatif masyarakat  yang simpatik terhadap gerakan Teman Ahok.

Waktu ini saya sempat menanyakan gerakan ini kepada Juru Bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas via surat elektronik (Surel).Gerakan ini diakui murni atas inisiatif anak muda. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saat ini gerakan  banyak menarik perhatian publik figur. Bahkan, banyak diantara mereka memperlihatkan dukungan secara terang-terangan. Meskipun demikian, katanya relawan ogah meneriman dukungan dari sponsor yang memiliki kepentingan tertentu.

Untuk semua biaya operasional Teman Ahok, aku dia  merupakan dana patungan dari teman-temannya. Selebihnya, banyak bantuan fasilitas datang dari warga. Disamping penjualan merchandise.

Teman Ahok  tidak akan menerima sumbangan uang tunai. Pihak yang mau membantu Teman Ahok diperbolehkan sebatas fasilitas, misalnya bantu cetak formulir, spanduk, bantu pinjamkan mobil, bantu pinjamkan ruko atau toko. “Hal ini kami lakukan agar gerakan Teman Ahok tetap menjadi gerakan kerelawanan, bukan kegiatan komersil ataupun gerakan yang ditumpangi kepentingan golongan tertentu,”kata Amalia Ayuningtyas.

Tak hanya taktik di dunia nyata saja yang ditempuh untuk mencari simpati. Di dunia maya pun tak kalah serunya. Selain melalui situs, para relawan juga memanfaatkan media sosial untuk mendorong warga Jakarta untuk terlibat. Mulai dari unggahan video kreatif di YouTube, diskusi terbuka yang dibuat melalui akun facebook, informasi terkini gerakan Ahok melalui twitter dan pajangan foto-foto ciamik di Instragram.

Lantas, siapa sebenarnya dibalik gerakan Teman Ahok tersebut ? Ternyata ada lima anak muda yang merasa terpanggil untuk medukung kebijakan Gubernur Jakarta saat ini. Mereka adalah Lia, Bowo, Richard, Singgih, dan Fathony. Mereka adalah pemuda yang tak beraflisiasi dengan tokoh atau parpol tertentu. Kelima pemuda ini berasal dari berbagai latarbelakang. Mulai dari marketing obat-obatan hingga mahasiswa. Dan, mereka relatif berumur masih muda, 22 tahun-24 tahun.

Di usia yang relatif muda, memang dalam pandangan umum terlalu dini untuk terjun politik praktis. Apalagi hanya sebagai volunteer (relawan). Hal ini rentan. Sebab, oknum yang tak suka dengan gerakan tersebut atau rival politik Ahok pasti juga tidak tinggal diam. Mereka (pasti) merencanakan berbagai gerakan bawah tanah untuk “melawan”. Menebar ancaman di sana-sini. Penuh resiko!

Apalagi gerakan yan dilakukan sifatnya sukarela. Tanpa dukungan dana dan logistik , tanpa bayaran sereceh pun. Namun satu hal yang membuat “Pandawa Lima” itu tergerak yakni kegelisahan. Yah, mereka galau dengan kondisi Jakarta yang tak manusiawi. Banjir yang kerapkali datang setiap tahun, kampung kumuh , bikorat yang korup, ledakan urbanisasi, hingga pelayan masyarakat. Dan, mereka percaya Ahok bisa membenahi hal itu.

Masalah cocok atau tidaknya Ahok memimpin, hanya orang Jakata yang akan nantinya menentukan pilihan. Meski demikian, Saya dan Anda yang berada di luar Jakarta tentu juga tak ada salahnya memberikan penilaian. Terlebih sebagai penonton dan pembaca berita di tengah riuh rendah dan pro –kontra pria asal Belitung di media ini, yang sarat dengan kepentingan politis.

Youth, Women dan Netizen

Selama ini politik dinilai melekat dan dekat para orang tua. Namun, pasca Pemilihan Presiden 2014, dunia persilatan politik Indonesia berubah 180 derajad. Ini artinya, politik tak hanya layak dikonsumsi oleh elite tua tapi juga para pemuda.Sehingga tak mengherankan banyak pembicara politik atau figur pemimin daerah kini diduduki oleh rezim muda.

Tentu hal itu dipengaruhi berbagai faktor. Bagi anak muda, tentu berangkat dari psikologi kejiwaannya. Yah, kerena galau tadi. Mereka gelisah melihat negeri atau daerahnya  berkembang hanya segitu-gitu saja. Mereka mempercayai bahwa kesejahteraan dan hak-hak warga akan bisa diselesaikan dengan perjuangan politik. Golongan muda pun mulai melek politik dan akhirnya terlibat didalamnya.

teman ahok
Tampilan situs temanahok.com

Lalu, apa hubungan dengan gerakan Teman Ahok ? Saat ini bisa dibilang  eranya para  millennials atau populer di sebut dengan Gen Y yang merupakan salah satu generasi terbesar setelah Baby Boomers. Jumlah mereka diprediksi mencapai seperempat populasi dunia (versi majalah Marketers 2014) . Millennials juga dapat diartikan sebagai mereka yang lahir antara tahun 1980 hingga awal 2000 atau berusia 14-34 tahun. Dalam dunia pemasaran atau ekonomi mereka memilki pengaruh besar. Nampaknya, hal itu juga tak jauh berbeda di politik.

Dari gen millennials tersebut bisa dibagi menjadi 3 sosok yakni Youth (pemuda), Women (perempuan) dan Netizen (pengguna internet). 3 sosok inilah yang selama ini mempengaruhi pasar karena mereka memiliki kepengaruhan disamping karakter unik. Kehidupan Youth, lekat dengan figur cepat, energik dan kreatif. Ia juga tidak terlepas dari sosok yang sering  memimpikan “kesempurnaan” atau paling tidak memiliki pilihan terbaik versi mereka. Dalam mendambakan pemimpin, juga demikian.

Women  memiliki tipe pertimbangan yang amat luar biasa. Terutama dalam urusan membeli barang atau jasa. Lagi-lagi nilai ekonomis dan produktif menjadi pilihan utama. Termasuk dalam hal pilihan politik, juga tak jauh berbeda. Ia melihat dominan dalam kaca mata ekonomi. Women mendambakan pemimpin yang bisa memberantas korpusi, karena dianggap tidak produktif di samping menguras APBD.

Dan, Netizen. Sosok ini bisa berasal dari youth, woman atau men. Keberadaan netizen tidak terlepas dari denyut nadi internet. Kehidupan dan aktivitas produtifnya kini hanya cukup dalam genggaman dan sekali klik! Mereka menikmati kehidupan dan bekerja dari internet secara daring (dalam jaringan) karena dinilai lebih simpel, cepat dan efesien. Tipe sosok ini, sulit “dibohongi” karena memiliki akses infomasi yang beragam dan lengkap. Dan, mereka juga memliki kemampuan untuk menyetir opini publik.

Tipe Netizen tentu memerlukan pemimpin yang tak jauh dari kesehariannya. Mereka menginginkan pemimpin yang bisa diajak berkomunikasi kapanpun dan dimanapun yang ia mau. Termasuk mengakses informasi kebijakan pemerintahan dari dalam genggaman. Intinya, Netizen memerlukan keterbukaan informasi seluas-luasnya.

Dari tiga tipe gen millennials di atas. mereka memiliki titik temu yang sama dalam hal mencari, mengolah, memanfaatkan dan membagi informasi. Internet. Nampaknya, hal tersebut ditangkap oleh Ahok melalui akun twitter, facebook hingga website pribadi yang dimilikinya.

Ahok  secara alami  sudah bisa menciptakan image dan karakter sesuai dengan kebutuhan tiga tipe millennials ibu kota. Setidaknya hal itu tercermin dari gebrakan yang dilakukan. Teman Ahok adalah buktinya. Tak mengherankan,  kebijakannya terkait  relokasi kawasan kumuh di Jakarta  yang menuai sorotan keras, tak membuat  Ahok  gentar. Di samping ia memang berani, dibelakangnya sudah “berdiri” para pendukungnya,  para golongan millennials. Golongan  yang siap mempenetrasi infomasi buruk  tentang dirinya.

Mereka juga  siap memulihkan citra Ahok baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

 

 

Share Your Thought