angeline
Doa untuk Angeline. (foto:antara)

Kasus pembunuhan selalu menaruh simpati bagi siapapun. Semakin tragis sebuah pembunuhan semakin seru dan lama ia diperbincangkan. Kasus Angeline, bocah 8 tahun yang memiliki jejak kehidupan dramatis ini contohnya.

Kepergian Angeline, bisa dibilang sebagai tragedi kemusiaan yang memilukan di Pulau Dewata. Jika diamati belakangan ini, kasus pembunuhan bukanlah hal yang asing. Lihat saja headline koran, media online dan layar kaca. Suguhan kasus menghilangkan nyawa, baik sengaja maupun tidak, sudah menjadi hidangan sehari-hari.

Mulai dari gantung diri, minum racun, dibacok, nyemplung ke sumur, hingga kecelakaan. Meskipun menimbulkan keprihatian, hal itu hanya berlaku sepintas. Namun, tidak dengan kasus Angeline. Publik tiba-tiba marah besar dan emosional.

Kemarahan publik sangat masuk akal. Otak dibalik pembunuhan dari berbagai bukti menguat pada orang terdekat Angeline sang ibu angkat. Margareith. Jika kita flasback kasus-kasus tragis kemanusiaan di Bali. Selain Bom Bali I dan II. Bisa dibilang kasus Angeline begitu menguras energi dan emosi. Awak media juga tak henti-hentinya mengungkap kasus ini habis-habisan. Tak rela rasanya jika sang “predator” selamat begitu saja.

Bocah polos tak berdosa, yang sehari-hari mengikuti perintah ibu angkat. Pulang pergi ke sekolah sekian kilometer menjadi pemandangan asing di perkotaan. Ditengah para orang tua curi waktu dan rela bolos kerja, untuk jemput antar sang anak di sekolah.

Usia 8 tahun bagi anak, adalah proses tumbuh kembang plus buaian kasih sayang.Tapi aturan itu tidak berpihak untuk Angeline. Ia harus mandiri. Tak ada waktu untuk bermanja-manjaan. Kasih sayang hanyalah mimpi di siang bolong baginya.

Citra Politisi

Pasca kepergian Angeline dengan cara tak biasa. Berbagai pihak berdatangan di kawasan Jalan Sedap Malam no 26, Sanur. Sebuah wilayah yang masuk di Desa Adat Kesiman, Denpasar. Berbagai ucapan bela sungkawa secara tertulis menumpuk di depan rumah yang sewindu belakangan ditinggali Angeline.

Tak luput, suguhan canang yang biasanya ditemukan dalam ritual umat Hindu berserakan di sana. Belum lagi setangkai bunga hampir setiap hari ada saja yang membawanya. Harapan mereka satu. Bidadari kecil tersebut bisa tenang di dunia barunya kini.

Angeline kini jadi buah bibir. Isu-isu korupsi dan berita sensasional para artis juga disalipnya.Kasus Angeline tak hanya menjadi sorotan Indonesia tapi juga dunia. Apapun yang menjadi perbincangan kasus Angeline cepat merebak dan menuai respon.

Kasus ini tak hanya menjadi panggung bagi para pihak kepolisian, psikolog, kriminolog dan LSM terkait. Tapi juga menjadi panggung bagi para politikus untuk show up. Panggung untuk menunjukkan kepedulian mereka. Panggung keprihatinan pada anak kecil tak berdosa. Sekaligus panggung terselubung mereka untuk ‘berkampanye’.

Mau bukti ?

Lihat saja ucapan yang dibawa para politisi dalam bentuk karangan bunga yang diberikan “embel-embel” partai mereka. Itu tentu bukan sekadar ucapan biasa. Ucapan yang diharapkan bisa dibaca oleh para warga yang setiap hari tumpah di depan rumah yang selama ini ditinggali Angeline.

Usai itu para politisi berkomentar di media, mengenai tetek bengek UU Perlindungan Anak hingga berbuih. Yang diujung wawancara konon akan memperjuangkan kasus tersebut dan tidak ingin terjadi tragedi Angline berikutnya.

Bahkan ada sosok wakil rakyat dengan ‘serius’ menggarap isu kematian Angeline di media massa hanya untuk mereproduksi citra dan elektabilitas dirinya beserta partai politiknya. Itu ada kok.

Ada kode advertorial yang disingkat ADV di akhir berita yang terpampang dalam halaman utama koran lengkap dengan foto close up sang dewan. Ceritanya, dalam berita berbayar itu sosok tersebut memberikan pernyaatan khusus atas meningalnya Angeline. Tak lain adalah basi –basi belasungkawa.

“Baru mikir pak ? Butuh berapa Angline-Angline lagi agar bapak pede memperjuangkan UU perjuangan perlindungan anak?,”demikian saya membatin.

Kisah memilukan dan keprihatian atas tragedi Angeline juga datang dari pemerintah khususnya Pemkot Denpasar. Bahkan, secara khusus Pemkot melakukan hal yang serupa dengan anggota dewan diatas. Memasang berita berbayar di koran untuk menginformasikan ke pulangan jenazah sang mendiang ke Jawa Timur.

Bantuan tersebut saya fikir sangat masuk akal. Karena, disamping atas nama kemanusiaan, wilayah kejadian berada di Denpasar. Jadi sudah sepatutnya hal tersebut dilakukan, tanpa menunggu pihak keluarga merengek ke Pemkot Denpasar.

Namun, nyatanya di lapangan apa yangterjadi ? “Semua itu omong kosong,”kata salah satu rekan wartawan sehari-hari liputan di RS Sanglah, Denpasar. Saat hari H, kepulangan jenazah, permasalahan administrasi sempat jadi “permasalahan”. Khususnya untuk membayar peti jenazah. Bahkan, dalam penyerahan batuan yang digalang oleh para wartawan sebesar Rp 18 juta, secara simbolis malah “direbut “oleh oknum Pemkot Denpasar.

“Coba bayangkan, selevel pemerintah lho! Mau cari muka saja di publik,”gerutu teman saya  yang dipercaya sebagai koordinator penggalangan dana tersebut.

Ya, begitulah. Pencitraan bisa datang dari mana saja dengan beragam cara. Termasuk kematian. Kabar terakhir, belum lama ini Angline dijadikan icon yang digelar oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dan Pemkot Denpasar  sebagai perlawanan kekerasan terhadap anak-anak.

Sebuah gerakan positif tentunya. Namun tetap menyisakan keprihatinan. Bagaimana dengan kekerasan dalam bentuk lainnya? Siapa yang akan dideklarasikan menjadi icon selanjutnya?

Sudah terlalu banyak kepentingan di sini.

Semoga, Angeline bisa memakluminya.

Ya, semoga…

Share Your Thought